Puasa Pertama bagi Zaza

Hari ini, Ramadhan memasuki hari ketiga. Ada haru dan bahagia, menyaksikan Zaza yang terus berlatih menjalankan puasa.

Dini hari tadi, dia dibangunkan ibunya untuk menikmati makan sahur. Tapi, kantuk membuat matanya tertutup rapat. Maklum, semalam dia baru bisa tidur di atas pukul 21.30.

Dengan kantuk yang masih tertahan, Zaza pun disuapi ibunya. Tetap dalam posisi tiduran. Sesekali dia merengek, mengeluhkan kantuknya yang masih menggelayut. Tapi, sambil merengek, dia masih terus bisa menikmati makan sahur, sesuap demi sesuap.

Pada hari pertama, Zaza dan Akmal terbangun pukul 01.20 karena anak-anak tetangga yang membunyikan musik patrol sedang lewat di depan rumah kami. Setelah itu, dia tertidur lagi dan baru menikmati sahur sekitar pukul 03.00. Mungkin karena itu, pagi hari sekitar pukul 09.00 pun dia sdh minta diizinkan “berbuka”. Uniknya, setelah itu dia menyambung puasanya hingga waktu Maghrib tiba.

Pada hari kedua, Zaza “berbuka” setelah adzan Dzuhur. Setelah itu, seperti puasa hari pertama, dia pun melanjutkan puasanya hingga adzan Maghrib berkumandang. Sebuah kemajuan yang cukup berarti bagi anak seusia dia.

Saya sempat berjanji akan berbuka bersama di rumah pada hari kedua. Sekaligus memberikan hadiah kepada dia dan adiknya, berupa tabungan dan kartu ATM atas nama keduanya, plus merchandise dari sponsor. Tapi, karena ada tugas yang belum tuntas, hadiah tersebut baru dapat mereka terima sepulang tarawih bersama ibunya.

Keduanya terlihat senang menerima tabungan, kartu ATM dan merchandise tersebut. Meski tinggal di desa, saya ingin keduanya tetap bisa mengikuti perkembangan zaman. Termasuk dalam hal tabungan. Lebih dari itu, pelajaran berhemat harus sudah mereka praktikkan sejak dini.

Terkait tabungan tersebut, saya tegaskan kepada keduanya bahwa tabungan itu akan menjadi bekal mereka kelak ketika akan melanjutkan sekolah dan kuliah.

Meski terlihat sama gembiranya, ekspresi Akmal lebih heboh. Tas punggung dan kaos yang diterimanya langsung diminta untuk dibuka dan dipakai.

Setelah itu, dia pun berjalan mondar-mandir dari kamarnya ke ruang tamu. Ketika akan keluar dari kamar, dia pun berpamitan layaknya mau berangkat sekolah. Lucunya, setelah sampai di ruang tamu, dia pun kembali dan berkata, “Pak, gurunya ndak ada. Tindhak (Jawa: pergi) ke Surbaya”. Dasar Markeso, batin saya.

Hari ini, saya berangkat ke Surabaya sambil menunggu perkembangan latihan puasa Zaza. Pasalnya, semalam saya bilang ke dia, kalau kuat, dia boleh berpuasa sampai Ashar. Tapi, kalau memang berat, cukup sampai Dzuhur dan kemudian dilanjutkan lagi hingga adzan Maghrib tiba.

Seusai Maghrib, saya mendapatkan kabar bahwa Zaza tetap berpuasa seperti kemarin. “Berbuka” pada waktu Dzuhur, lalu disambung lagi hingga Maghrib. Alhamdulillah, batin saya.

Teruskan latihanmu, Putri-ku. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjagamu. Agar, kelak engkau menjadi anak shalilah yang pandai bersyukur kepada-Nya dan bermanfaat bagi makhuk-Nya. Amin

From Seblak-to-Graha Pena, 3 September 2008

3 Tanggapan

  1. Alhamdulillah… Zaza sudah belajar puasa..
    Alhamdulillah pula Diki dan Nanin sudah lancar puasa (kan sudah besar, hihihi… Diki kelas 2 SMP, Nanin kelas 3 SD)… Salam buat Zaza

  2. Matur nuwun, Mas.

    Doakan saja dia bisa meningkatkan “kelas”-nya dalam berpuasa :-)

    Salam untuk seluruh keluarga dan keluarga besar PATTIRO Solo.

  3. Belajar puasa juga artinya mengajari anak me-manage perasaan dan emosi…susah lho untuk tidak boleh berantem sesama saudara. Tetapi di situlah seni-nya…
    Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya…ayo terus berbagi cerita n pengalaman
    Salam untuk Keluarga

Tinggalkan Balasan