Tanggal 10 November 1945 adalah salah satu fase penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, ribuan Arek Suroboyo menjadi korban gempuran pasukan Sekutu, akibat penolakan mereka untuk memenuhi ultimatum penyerahan senjata. Mereka lebih memilih melawan penjajah dan (sebagian) mati secara bermartabat demi mempertahankan kemerdekaan yang belum genap tiga bulan diproklamirkan.
Sebagai kekuatan umat Islam yang paling berpengaruh, Nahdlatul Ulama bahkan mengeluarkan Resolusi Jihad, yang –diakui atau tidak— turut memompa semangat dan menjadi landasan teologis bagi perlawanan rakyat terhadap penjajah. Seruan yang termaktub dalam Resolusi Jihad ditegaskan dalam hasil bahtsul masa’il Muktamar NU ke-16 tahun 1946 yang berlangsung di Purwokerto. Salah satu isinya berbunyi: bahwa berperang menolak penjajah dan para pembantunya adalah wajib ‘ain atas tiap-tiap jiwa, baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak (Aziz Masyhuri, Ahkamul Fuqaha’, 1997: 197).
Kini, setelah 57 tahun berlalu, adakah ruh dan semangat itu (baca: semangat untuk hidup merdeka dan bermartabat) masih melekat pada diri kita? Masih adakah jiwa patriot itu dalam diri generasi sekarang, generasi yang dibesarkan di tengah disorientasi sosial-politik-budaya? Jika masih ada, bagaimana patriotisme itu dimanifestasikan dalam kehidupan individual serta kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998), kata patriotisme berarti semangat cinta tanah air, sikap seseorang yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Dengan kata lain, semangat cinta tanah air dan kesediaan berkorban itu semata-mata ditujukan untuk mencapai (memperjuangkan) kejayaan dan kemakmuran tanah air. Pertanyaan selanjutnya: bagaimana rumusan patriotisme dalam konteks kekinian?
Patriotisme identik dengan kepahlawanan, yang secara etimologis berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pada masa revolusi fisik melawan penjajahan, secara sederhana dapat dikatakan bahwa tokoh-tokoh yang dianggap Belanda sebagai pemberontak akan menjadi pahlawan setelah masa kemerdekaan. Begitu pula sebaliknya. Karena itu, rumusan Muktamar Purwokerto sebagaimana dipaparkan di atas menyebutkan bahwa yang harus ditolak bukan hanya penjajah, tetapi juga para pembantunya (yang bisa jadi terdiri dari banyak warga pribumi).
Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam menyebutkan ada tiga aspek kepahlawanan, yakni 1) keberanian, 2) pengorbanan, 3) membela kebenaran. Dari ketiga aspek tersebut, aspek kedua mempunyai kesamaan dengan dimensi patriotisme. Sayangnya, menurut Adam, kini makin sedikit orang yang rela berkorban untuk masyarakat, meski masih ada (Kompas, 8/11).
Dalam konteks kekinian, pengorbanan tersebut tidak harus mewujud dalam bentuk pengorbanan fisik seperti pada masa revolusi. Spektrum pengorbanan dan patriotisme menjadi sangat luas, sama luasnya dengan spektrum “semangat penjajahan” yang kian menggejala dalam perilaku sebagian anak bangsa yang kini menjadi penguasa.
Sikap pemerintah yang terus membiarkan Indonesia mengalami kebangkrutan ekonomi dengan semakin membengkaknya hutang luar negeri serta kian akutnya kejahatan korupsi, jelas jauh dari semangat dan jiwa patritorik.
Selain itu, kinerja Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang menjual murah berbagai aset strategis kepada investor asing tentu lebih layak disebut sebagai proses penggadaian bangsa daripada upaya pemulihan ekonomi. Ketika supremasi hukum begitu mandul berhadapan dengan para koruptor kelas kakap yang menggarong uang rakyat tetapi begitu garang di hadapan rakyat kecil dan maling ayam, tidak ada salahnya jika kita menuding aparat penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim) lebih berperan sebagai pecundang daripada penegak hukum.
Bahkan, tidak terlalu salah pula jika kita menyebut puluhan pengusaha yang berbondong-bondong mengimpor beras dan gula dari luar negeri karena tergiur keuntungan berlimpah –tentu saja tanpa melupakan trik dumping dan bermain pat-gulipat dengan aparat bea cukai di pelabuhan— sebagai pembantu kaum penjajah. Sebab, liberalisasi perdagangan yang dilakukan secara tidak fair semacam itu adalah wajah lain dari neo-imperialisme yang sangat merugikan kepentingan nasional.
Pendek kata, patriot dan pecundang ada di semua lini kehidupan. Dan, garis tipis yang membedakan keduanya adalah: apakah sebuah pilihan sikap dan tindakan akan membawa kemaslahatan bagi orang banyak dan menjadikan bangsa Indonesia semakin terhormat dan bermartabat di hadapan bangsa lain atau sebaliknya. Wallahu A’lam.
Nur Hidayat, Sekretaris Lakpesdam NU Kabupaten Mojokerto
Artikel dimuat Duta Masyarakat, Rabu, 13 Nopember 2002
DIarsipkan di bawah: Percikan Nalar











Sekarang masih perang jihad kan mas? memerangi penjajah masa sekarang ya misalnya pakai produk dalam negri, makan dari hasil pertanian petani kita sendiri, dlsm (lho kok jadi prabowo buangets???)…
*termasuk memerdekakan dari penjajahan software ya?
Apa yang salah dari iklan Prabowo? Ndak ada, Mas. Yang salah ya karena dia jadi Ketua HKTI setelah pensiun dari tentara:-)
Enha~Belajar Lepas dari Software Om Bill
Mangkana gunakan hak pilih dengan bijak di pemilu 2009. Kita msh byk yg suka diboongi si.. Btw emang inilah hidup. Merdeka, berarti sesudah itu kita mati
Jejak Langkah Sebuah Bangsa, Sebuah Nation
Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”
-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
Dikutip Kompas di tulisan pembuka liputan khusus Anjer-Panarukan
Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Koran Kompas dan juga kalangan pers pada umumnya yang secara intens dan kental mendorong munculnya kesadaran historis sekaligus harapan dan optimisme akan masa depan Indonesia. Mempertautkan makna masa lalu, masa kini dan masa depan. Ini nampak paling tidak sejak bulan Mei secara rutin Kompas memuat tulisan wartawan-wartawan seniornya dan mungkin beberapa orang non wartawan kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional . Patut diapresiasi pula liputan besar Kompas “Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer-Panaroekan”.
Daniel Dhakidae yang juga menjadi salah satu penulis seri 100 Tahun Kebangkitan Nasional Kompas ini pernah mengatakan bahwa “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memperoyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat disini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhdap masa lalu dan memeriksa kembali masa lalu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian”. (Cendekiawan dan Kekuasaan : Dalam Negara Orde Baru; Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal xxxii)
Dalam bukunya itu contoh gamblang diperlihatkan oleh Dhakidae, dimana sebelum sampai pada bahasan masa Orde Baru ia melakukan pemeriksaaan wacana politik etis sebagai resultante pertarungan modal, kekuasaan negara kolonial, dan pertarungan kebudayaan antara Inlander vs Nederlander, antara boemipoetra dan orang Olanda. Baginya zaman kolonial menjadi penting bukan semata sebagai latarbelakang, akan tetapi wacana itu begitu menentukan yang dalam arti tertentu bukan saja menjadi pertarungan masa lalu akan tetapi masa kini.
Kompas saya pikir telah mengerjakan ini dengan sangat baik dan saya mendapatkan pencerahan dari sana (o iya Bung Daniel adalah juga kepala litbang Kompas)
Untuk meningkatkan akses publik ke seluruh tulisan-tulisan berharga ini, saya menghimpun link seri artikel Kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini. Sebelumnya saya juga telah menghimpun link seri liputan Kompas Ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan : Jalan (untuk) Perubahan.
Demikian juga saya telah menghimpun link-link ke artikel-artikel Edisi Khusus Kemerdekaan Majalah Tempo tentang Tan Malaka “BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN. Sebagai catatan tulisan tentang Tan Malaka juga ada di dalam seri tulisan Kompas seputar 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Apresiasi tinggi pula untuk Majalah Tempo.
Akhir kata secara khusus saya menaruh hormat kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah menjadi ‘guru sejarah’ saya melalui karya-karya sastra dan buku-buku sejarah yang ditulisnya. Saya pikir bukan sebuah kebetulan Kompas mengutip roman Jejak Langkah sebagai pengantar liputan khususnya, juga dari buku Pram Jalan Raya Pos, Jalan Daendels- “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.
Tidak lain juga sebuah penghormatan kalau tidak pengakuan terhadap sumbangan Pram untuk negeri ini. Diakui atau tidak.
Salam Pembebasan
Andreas Iswinarto
Untuk seri tulisan 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Kipling, Ratu Wilhelmina, dan Budi Utomo; Renaisans Asia Lahirkan Patriotisme Bangsa-bangsa; Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara; Menemukan Kembali Boedi Oetomo; Ideologi Harga Mati, Bukan Harta Mati; Pohon Rimbun di Tanah yang Makin Gembur; Mencari Jejak Pemikiran Hatta; Membangun Bangsa yang Humanis; Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional; Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan “Ngelmu”; Masa Depan “Manusia Indonesia”-nya Mochtar Lubis, Menolak Kutukan Bangsa Kuli; Pendidikan dan Pemerdekaan; Kembali ke PR Gelombang Ketiga; Kebudayaan dan Kebangsaan; Musik Pun Menggugah Kebangsaan…
Silah link ke
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html
Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html
Edisi Kemerdekaan Tempo dan 12 buku online : Tan Malaka
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html