Tentang Ketulusan dan Keculasan

Minggu ini, saya mendapatkan tiga pelajaran berharga tentang dua sisi dunia: ketulusan dan keculasan.

Pelajaran pertama, tentang ketulusan, bersumber dari cerita Pak Masyhudi, Sekretaris PWNU Jatim. Cerita bermula ketika Senin siang (20/10), Pak Masyhudi dan dua orang staf PWNU melakukan perjalanan ke Kawasan Gemblongan, Surabaya, untuk membeli mebelair dan karpet.

Ketika tiba waktu salat dzuhur, ketiganya melaksanakan salat di salah satu musholla kampung di kawasan itu. Pada rekaat ketiga, datang seseorang yang ikut bergabung ke dalam jamaah kecil tersebut. Walhasil, saat ketiga orang tersebut mengakhiri salat dan wirid pendeknya, makmum terakhir itu baru memasuki rakaat ketiga.

Beberapa saat setelah meninggalkan masjid, Sulaiman, salah satu staf PWNU, baru sadar jika HP-nya tertinggal di musholla tersebut. Ketika coba dihubungi, ternyata HP tersebut dibawa oleh seseorang. Dengan lugas orang tersebut menjawab, “Silahkan kembali ke musholla, saya tunggu”.

Setelah bertemu, orang tersebut bercerita bahwa dia membatalkan salatnya demi untuk menyelamatkan HP tersebut. Sebab, ujar dia, jika dia memaksakan diri melanjutkan salat dan ada orang lain yang mengambil HP itu, maka dia tidak mungkin bisa menyelamatkan barang berharga tersebut. Maka, satu-satunya pilihan adalah membatalkan salat, mengamankan HP, dan kemudian memulai salat dzuhur lagi dari awal.

Uniknya, ketika sang pemilik HP hendak memberikan uang sebagai tanda terima kasih, orang tersebut menolaknya. Tanpa bermaksud basa-basi, dia menjawab, “Saya tidak melakukan apa-apa. Hanya mengambil HP tersebut biar tidak diambil orang. Jadi saya tidak berhak menerima apa-apa”.

Yang lebih mengharukan, ternyata keseharian orang tersebut “hanya” berjualan teh dan makanan ringan di warung pinggir jalan kampung itu.

Pelajaran berharga pertama adalah: jangan pernah tutup mata terhadap realitas sosial dengan alasan sedang menyembah Tuhan.

Pelajaran kedua datang dari seorang sopir taksi. Selasa pagi (21/10), saya naik taksi dari kawasan Embong Malang menuju Pakuwon. Di dalam taksi, sang sopir yang warga Kota Batu bercerita bahwa tadi malam dia hampir “ketiban rezeki”.

Kisahnya, malam itu dia mendapatkan penumpang seorang perempuan, yang menurut penuturannya, sangat cantik. Oleh si penumpang, Pak Sopir yang lebih suka disebut “Jenderal Hasan” itu diajak untuk check-in ke salah satu hotel, dengan iming-iming uang Rp 100 ribu.

Kepada saya, “Jenderal Hasan” bercerita sempat ragu untuk memutuskan sikap. Di satu sisi, godaan itu begitu memikat dan datang tanpa diundang. Di sisi lain, dia masih berusaha untuk menjaga akal sehatnya dengan mengingat anak-istri di rumah. Akhirnya, “Sang Jenderal” memutuskan untuk menolak tawaran “dewi fortuna” itu dengan halus.

Pelajaran moral kedua: tidak semua “pekerja jalanan” memiliki gaya hidup “tidak sehat”.

Pelajaran ketiga juga datang dari seorang sopir taksi. Bedanya, ini pelajaran tentang keculasan.

Selasa siang (21/10), setelah paginya diantar oleh “Jenderal Hasan”, saya kembali naik taksi untuk kembali ke sebuah hotel di kawasan Embong Malang. Saat hendak keluar dari lokasi acara di Pakuwon Indah, saya melihat gelagat mencurigakan dari sopir taksi yang bernama Imam S.

Demi tidak menyinggung perasaannya, saya berpura-pura mengetik SMS sambil memperhatikan gelagatnya melalui spion yang ada di depan sopir. Ternyata, ketika kendaraan baru berjalan sekitar 500 meter, Imam berusaha berbelok ke arah yang salah (dengan harapan tarif argonya akan bertambah mahal).

Begitu kendaraan berbelok ke arah yang keliru (arah kiri), saya segera menegur halus, “Kenapa kok ndak belok kanan? Sampean mau ke mana?” Mendengar itu, sang sopir gugup dan berkata spontan, “Oh, ke kanan ya, Pak? Saya kira ke kiri.” Padahal, sebelum berbelok ke kiri, dia sempat melirik saya di spion dan kemudi juga sempat beberapa detik hendak dibelokkan ke kanan, tapi kemudian dibatalkan setelah dia merasa saya sedang lengah.

Setelah itu, saya gertak sopir tersebut dengan intonasi yang datar, “Turunkan saya di PTC. Dan ingat, saya sudah catat nomor lambung sampean”. Mendengar kalimat itu, Imam gelagapan dan segera meminta maaf. Berkali-kali dia minta maaf dengan mengatakan tidak tahu arah, berkali-kali pula saya menegaskan bahwa ulahnya disengaja dan saya beberkan pengamatan saya tentang lirikan matanya ke spion.

Akhirnya, saya lelah meladeni sopir nakal ini, meski tetap tidak tega untuk turun di tengah jalan. Saya kemudian hanya diam seribu bahasa. Imam terus meracau meminta maaf dan mengatakan tidak tahu arah.

Ketika sadar sikap diam saya sebagai ekspresi kemarahan, Imam berkata pasrah, “Ya sudah, kalau Bapak mau komplain ke kantor, silahkan saja. Paling-paling saya diskors tiga bulan”. Merasa di atas angin, saya hanya jawab, “Sekali lagi sampean bilang tidak tahu arah, saya akan komplain ke kantor. Lha wong jelas-jelas tadi sampean sengaja kok. Mengerti?” Giliran dia yang diam seribu bahasa. Sampai kemudian saya memutuskan untuk turun di Gramedia Expo, untuk membeli buku.

Pelajaran moral ketiga: kita harus selalu waspada, meski tidak perlu berprasangka. Dengan kewaspadaan tinggi, niat culas orang terhadap kita akan bisa kita patahkan dengan mudah.

Surabaya, 22 Oktober 2008

Tinggalkan Balasan