Kasiran

Namanya Kasiran. Umurnya 45 tahun. Dia adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sragen dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP). Jabatan terakhirnya sebelum meninggal adalah Sekretaris Komisi E DPRD Sragen.

Menurut rencana, Kasiran akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tanggal 19 Januari mendatang. Tidak tanggung-tanggung, ia akan berangkat dengan status sebagai salah satu anggota Tim Pendamping Haji Daerah (TPHD) Sragen. Untuk keberangkatan haji ini, ia sudah menggelar acara tasyakuran pada tanggal 29 Desember 2002.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Itulah yang terjadi pada Kasiran. Tepat pada saat keberangkatan kelompok terbang (kloter) pertama calon jamaah haji Indonesia pada tanggal 9 Januari lalu, Kasiran meninggal dunia. Yang menyedihkan, ia meninggal dunia dalam keadaan setengah telanjang dalam pelukan kekasih gelapnya, Sudarmi (35), yang juga meninggal dunia bersama dengannya.

Keduanya meninggal di sebuah kamar Hotel Komajaya-Komaratih di kawasan wisata Tawangmangu, Karanganyar. Di kamar hotel tersebut, polisi menemukan satu botol bir putih, satu botol bir hitam, dua botol minuman energi, dan puluhan pil sebesar mrica yang plastiknya terbuka.

Kematian tersebut cukup mengejutkan dan bisa jadi memalukan. Apalagi, konon, Sudarmi yang berprofesi sebagai pesinden sebenarnya tidak lebih cantik daripada istri sah Kasiran, Sulastri. Di sisi lain, dalam kesehariannya, Kasiran juga dikenal sebagai orang yang lurus-lurus saja. Aktivitas sosial-keagamannya juga cukup banyak, mulai mengisi pengajian dalam rangka pemberantasan buta huruf al-Quran sampai menjadi Ketua Pembangunan Pondok Pesantren Syifa’ul Qolbi di Sragen Tengah (Surya, 11/1).

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Tapi pasti tidak seorang pun yang pernah berharap akan mengalami kematian seperti yang dialami Kasiran. Bahkan, andai boleh memilih, tentu Kasiran sendiri tidak akan bersedia didatangi malaikat pencabut nyawa dalam kondisi demikian.

Tetapi, ajal dan kematian tetaplah sebuah misteri yang berada di luar jangkauan nalar dan penjelajahan empirik. Misteri itu sendiri diciptakan oleh Tuhan sebagai ujian bagi setiap manusia, sebagaimana firman-Nya, “(Dia) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun (QS 67:2)”.

Terlepas dari bagaimana nilai “rapor” Kasiran di mata Tuhan, kematiannya mengandung beberapa pelajaran (‘ibrah) yang sangat berharga bagi kita semua. Pertama, banyaknya aktivitas sosial dan keagamaan seseorang –apalagi yang berbau formalistik dan simbolik– tidak menjadi jaminan bagi tingginya penghayatan spiritual dan relijiusitas orang tersebut. Di era yang penuh dengan distorsi dan disorientasi nilai seperti sekarang, kita tidak lagi bisa menilai seseorang hanya berdasar penampilan lahiriah. Apalagi jika orang tersebut adalah seorang politisi. Sebab, dunia politik selalu rame ing pamrih.

Kedua, jika mau jujur, sebenarnya Kasiran “tidak sendirian”. Artinya, sebenarnya Kasiran hanyalah “representasi” dari ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan orang. Ia adalah cermin retak bagi orang-orang yang berteriak lantang tentang kebenaran, kejujuran, keadilan, etika, moralitas, dan nilai-nilai luhur lainnya di atas panggung (panggung apapun, tidak hanya panggung politik!!!), sementara di belakang panggung tidak jarang mereka “berselingkuh” dengan nilai-nilai yang –ketika berada di atas panggung– selalu mereka lawan. Bisa jadi, ia hanyalah satu di antara sekian ribu pemain peran yang cukup piawai memainkan peran dan karakter protagonis di atas panggung, yang tidak mencerminkan karakter asli mereka.

Kematian Kasiran menjadi sebuah peringatan bagi kita semua untuk selalu konsisten dalam setiap pikiran-kata-perilaku. Sebagai sebuah peringatan, tentu ia hanya akan berpengaruh tatkala kita memasukkan bayangan kematian itu dalam kesadaran kita. Sekali kita abaikan, maka peringatan itu tidak akan bermakna apa-apa. Konsekuensinya  adalah, na’udzu billahi min dzalik, kita harus siap setiap saat untuk mengalami kematian dalam keadaan yang bisa jadi tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Dalam sebuah tulisannya, Kang Jalal (1999:192) antara lain menyatakan, “Ingat kepada kematian mendorong manusia berbudi baik. Ia akan menjadikan amal salih sebagai bekal untuk kehidupan sesudah kematian. Sadar akan kematian berarti sadar akan ketiadaan Ego dan ‘nonbeing’. Bila kita harus mengakhiri semuanya dengan kematian, masih absahkah kebiasaan kita untuk terus menerus mengorbankan orang lain buat kepentingan kita?”

Akhirnya, marilah kita berdoa semoga kematian Kasiran hanyalah sebuah “kisah fiksi” yang dibuat oleh Tuhan untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita semua. Semoga Dia berkenan mengampuni segala kesalahannya dan kesalahan kita. Amin.

Duta Masyarakat, 14 Januari 2003

Tinggalkan Balasan