<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Maya Nur Hidayat</title>
	<atom:link href="http://mazhida.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mazhida.wordpress.com</link>
	<description>Serpihan Hikmah di Sudut Nalar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Nov 2009 05:19:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='mazhida.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4e80f937b05e753dc12fa9234609cdc8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumah Maya Nur Hidayat</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Menyoal Anggaran Pendidikan</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2009/11/07/menyoal-anggaran-pendidikan/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2009/11/07/menyoal-anggaran-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 05:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Nalar]]></category>
		<category><![CDATA[anggaran pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[apbd jatim]]></category>
		<category><![CDATA[konstitusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Dalam lima tahun terakhir, pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (RAPBN/D) hampir selalu diwarnai perang tafsir tentang prioritas alokasi anggaran pendidikan sesuai amanat konstitusi. Dan, polemik itu tampaknya juga mulai muncul dalam pembahasan RAPBD Provinsi Jawa Timur 2010.
Buktinya, DPRD Jatim menilai dana pendidikan sebesar Rp 980,7 miliar yang dialokasikan dalam RAPBD 2010 tidak sesuai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=290&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-291" title="uang" src="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/11/uang.jpg?w=244&#038;h=222" alt="uang" width="244" height="222" />Dalam lima tahun terakhir, pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (RAPBN/D) hampir selalu diwarnai perang tafsir tentang prioritas alokasi anggaran pendidikan sesuai amanat konstitusi. Dan, polemik itu tampaknya juga mulai muncul dalam pembahasan RAPBD Provinsi Jawa Timur 2010.</p>
<p>Buktinya, DPRD Jatim menilai dana pendidikan sebesar Rp 980,7 miliar yang dialokasikan dalam RAPBD 2010 tidak sesuai dengan amanat Pasal 31 Ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945. Sebab, anggaran tersebut hanya setara dengan 13,4 persen RAPBD senilai Rp 7,3 triliun.</p>
<p>Menanggapi kritik tersebut, Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan bahwa alokasi Rp 980 miliar itu hanya pada pos Dinas Pendidikan. Jika alokasi dana pendidikan dan latihan serta pendidikan dinas-dinas seperti balai latihan kerja juga dimasukkan dalam hitungan, jumlahnya bisa mencapai 23 persen (<em>Kompas Jatim</em>, 20/10).</p>
<p>Polemik serupa sudah sering terjadi dan terus berulang setiap tahun. Ia juga terjadi pada hampir semua daerah. Pola perdebatannya pun hampir seragam: legislatif mengkritik alokasi anggaran yang tidak sesuai peraturan perundang-undangan, lalu eksekutif menjawab dengan argumentasi mirip pernyataan gubernur di atas.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah tafsir anggaran “mazhab eksekutif” tersebut memiliki dasar pijak normatif-yuridis? Untuk menjawabnya, marilah kita tengok ketentuan perundang-undangan yang mengatur hal tersebut.</p>
<p><strong>Definisi Operasional<br />
</strong>Pasal 49 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) menyatakan, “Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 persen dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20 persen dari APBD”.</p>
<p>Ketentuan tersebut merupakan definisi operasional rumusan anggaran pendidikan yang diamanatkan pasal 31 Ayat (4) UUD 1945. Penjelasan Pasal 49 Ayat (1) UU Sisdiknas tersebut menyatakan bahwa pemenuhan pendanaan pendidikan dapat dilakukan secara bertahap.</p>
<p>Namun, Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan penjelasan pasal tersebut. Melalui putusan Nomor 11/PUU-III/2005 tanggal 19 Oktober 2005, MK mengabulkan permohonan judicial review Fathul Hadie Utsman dkk dan menyatakan bahwa penjelasan Pasal 49 Ayat (1) UU Sisdiknas tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.</p>
<p>Sekitar satu setengah tahun kemudian, dalam amar putusan Nomor 24/PUU-IV/2007 yang dibacakan pada 20 Februari 2007, MK menyatakan bahwa Pasal 49 Ayat (1) UU Sisdiknas sepanjang mengenai frasa “gaji pendidik dan” bertentangan dengan UUD dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dengan kata lain, gaji pendidik harus dihitung sebagai bagian dari anggaran pendidikan.</p>
<p>Sejarah mencatat, putusan itu telah memicu kontroversi. Tiga hakim MK juga menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinions) terhadap putusan tersebut. Meski demikian, putusan itu sangat “melegakan” pemerintah daerah. Sebab, tanpa putusan itu, mayoritas daerah tampaknya tidak akan mampu memenuhi amanat konstitusi tersebut.</p>
<p>Pasalnya, belanja pegawai dinas pendidikan –mayoritas berprofesi sebagai pendidik– menyedot porsi yang cukup besar dari total APBD di semua daerah (kecuali daerah perkotaan berskala kecil). Kondisi serupa akan dialami pemerintah (pusat) selama beban cicilan utang masih menyerap hampir sepertiga volume APBN.</p>
<p><strong>Perlu Terobosan<br />
</strong>Merujuk definisi operasional di atas, bisakah anggaran pendidikan dan latihan (diklat) dan balai latihan kerja dimasukkan ke dalam hitungan anggaran pendidikan?</p>
<p>Jika anggaran diklat yang dimaksud berada pos Badan Diklat Provinsi, misalnya, maka ia seharusnya masuk ke dalam hitungan biaya pendidikan kedinasan. Artinya, anggaran tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam hitungan anggaran pendidikan.</p>
<p>Bagaimana dengan anggaran untuk balai latihan kerja (BLK)? Merujuk Pasal 26 Ayat (3) UU Sisdiknas, anggaran BLK bisa saja dimasukkan ke dalam hitungan anggaran pendidikan. Sepanjang masuk ke dalam domain pendidikan (bukan ketenagakerjaan), BLK dapat dikategorikan sebagai pendidikan nonformal sebagaimana pendidikan anak usia dini atau pendidikan keaksaraan.</p>
<p>Masalahnya, benarkah tugas pokok dan fungsi (tupoksi) BLK masuk ke dalam domain pendidikan? Selain itu, merujuk persentase anggaran yang disebut Pakde Karwo –sapaan populer Gubernur Soekarwo–, apakah proporsional jika hampir separuh dari keseluruhan dana pendidikan  (sekitar 10 persen RAPBD) justru dikelola oleh satuan kerja dengan tupoksi non-pendidikan? Padahal, pada saat yang sama, masih banyak problem yang melingkupi pendidikan dasar dan belum teratasi.</p>
<p>Dalam konteks ini, gubernur harus mengambil langkah terobosan dengan menjelaskan secara gamblang dan memadai tentang capaian pemenuhan anggaran pendidikan di Jatim. Penjelasan tersebut perlu disampaikan kepada publik disertai dengan rincian pos anggarannya dalam RAPBD.</p>
<p>Dengan demikian, publik dapat mengetahui apakah gubernur telah bersungguh-sungguh dalam melaksanakan janji politik yang disampaikan pada saat kampanye atau belum. Apalagi, pada saat kampanye, Pakde Karwo juga berjanji akan memprioritaskan APBD untuk pembangunan pendidikan, kesehatan dan lapangan kerja yang disingkat PKL.</p>
<p>Manfaat lainnya, langkah itu sekaligus dapat mengakhiri perang tafsir anggaran pendidikan antara “mazhab eksekutif” dan “mazhab legislatif” yang berlangsung selama ini. Energi anggota DPRD pun dapat difokuskan untuk mencermati rincian alokasi anggaran yang termaktub dalam RAPBD.</p>
<p>Alhasil, pembahasan RAPBD dapat difokuskan kepada hal-hal yang lebih substansial. Dalam banyak kasus, perang tafsir tersebut justru sering mengalihkan perhatian kalangan legislatif dari substansi pemenuhan anggaran pendidikan. Akibatnya, peningkatan alokasi anggaran yang idealnya bermanfaat untuk publik pun lebih banyak terserap untuk belanja pegawai dan biaya operasional birokrasi (dinas pendidikan).</p>
<p>Saat ini, masih ada waktu bagi gubernur untuk memulai terobosan tersebut. Tanpa itu, slogan “APBD untuk Rakyat” yang bergema saat kampanye dulu tidak akan berarti apa-apa bagi masyarakat. Lebih dari itu, jika terbukti tidak sesuai amanat konstitusi, APBD 2010 justru dapat menjadi bom waktu bagi posisi gubernur.</p>
<p><strong>Nur Hidayat</strong></p>
<p>Pendidik di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang; Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur</p>
<p>Artikel dimuat di Harian Surya, 5 November 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/290/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=290&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2009/11/07/menyoal-anggaran-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/11/uang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">uang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Halaqah Maslahah Ammah: Babak Baru Politik NU</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/03/halaqah-maslahah-ammah-babak-baru-politik-nu/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/03/halaqah-maslahah-ammah-babak-baru-politik-nu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 01:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Nalar]]></category>
		<category><![CDATA[halaqah]]></category>
		<category><![CDATA[khittah]]></category>
		<category><![CDATA[maslahah]]></category>
		<category><![CDATA[politik nu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[
A politician thinks of the next election;
a statesman of the next generation
(James Clarke, US Politician, 1854-1916)
Artikulasi politik kebangsaan dan kerakyatan Nahdlatul Ulama memasuki babak baru. Setelah ketegangan yang sempat menyertai proses pra-pencalonan gubernur dan wakil gubernur (pilgub) Jawa Timur berlalu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar Halaqah Maslahah Âmmah (HMA) di Asrama Haji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=285&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<p style="text-align:right;"><em><img class="size-full wp-image-286 alignright" title="miskin" src="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/10/miskin.jpg?w=196&#038;h=131" alt="miskin" width="196" height="131" />A politician thinks of the next election;<br />
a statesman of the next generation<br />
</em><strong>(James Clarke, US Politician, 1854-1916)</strong></p>
<p>Artikulasi politik kebangsaan dan kerakyatan Nahdlatul Ulama memasuki babak baru. Setelah ketegangan yang sempat menyertai proses pra-pencalonan gubernur dan wakil gubernur (pilgub) Jawa Timur berlalu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar Halaqah Maslahah Âmmah (HMA) di Asrama Haji Sukolilo, Sabtu (21/6) ini.<span id="more-285"></span><!--more--></p>
<p>Dalam forum tersebut, PWNU akan memaparkan perspektif NU tentang arah pembangunan Jatim di hadapan seluruh kontestan pilgub Jatim yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Setelah itu, mereka akan dimintai tanggapan dan komitmennya untuk memperjuangkan amanat tersebut.</p>
<p>Sedikitnya ada empat hal yang membuat HMA menjadi sangat strategis. <em>Pertama</em>, sebagai basis NU, diyakini tidak kurang dari 71 persen penduduk Jatim adalah warga (jamaah) NU. Karena itu, warga NU merupakan mayoritas penerima manfaat (atau mudarat?) proses pembangunan di Jatim. Dalam konteks ini, perspektif PWNU dipandang sangat representatif.</p>
<p><em>Kedua</em>, HMA merupakan embrio pelembagaan partisipasi masyarakat dalam kebijakan daerah. Sebagai organisasi masyarakat sipil terbesar dan paling mengakar di Jatim, sudah seharusnya institusi (jamiyah) dan warga (jamaah) terlibat secara aktif dan kritis pada proses perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan pemerintah daerah.</p>
<p><em>Ketiga</em>, dengan HMA, institusi NU diposisikan sebagai pengayom bagi semua kontestan. Hal ini sejalan dengan Khittah NU yang mengamanatkan NU sebagai jamiyah secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan manapun juga.</p>
<p><em>Keempat</em>, HMA diharapkan menjadi instrumen pendewasaan politik masyarakat, bukan sekadar warga NU. Lompatan signifikan ini sekaligus pengejawantahan sembilan butir Pedoman Berpolitik Warga NU yang diputuskan pada Muktamar ke-28 NU di Krapyak Yogyakarta (1989). Butir ketiga pedoman itu, misalnya, menegaskan bahwa politik bagi NU adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban, dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama.</p>
<p>Dengan <em>positioning </em>seperti itu, HMA diharapkan dapat meneguhkan (kembali) peran dan fungsi NU sebagai organisasi sosial keagamaan. Pinjam istilah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh, sampai saat ini, fungsi NU hanya sebatas penyewa alat pesta. NU hanya menjadi jujugan ketika orang lain punya hajat dan ingin pestanya sukses. Tapi, ketika pesta selesai, peralatan pun dikembalikan tanpa ada kelanjutan apa-apa (<em>Jawa Pos</em>, 3/11/2007).</p>
<p><strong>Prinsip Maslahah Âmmah</strong></p>
<p>Terminologi <em>maslahah âmmah </em>mulai diadopsi secara resmi dalam keputusan Muktamar ke-29 NU di Cipasung (1994). Maslahah âmmah diartikan sebagai sesuatu yang mengandung nilai manfaat yang bersifat nyata (<em>haqîqiyah</em>), bukan hipotesis (<em>wahmiyah</em>), serta tidak bertentangan dengan al-Qurân, hadits, ijmâ’ dan qiyâs.</p>
<p>Maslahah âmmah harus selaras dengan tujuan syariat (<em>maqâshid al-syarî’ah</em>). Yaitu terpeliharanya lima hak dan jaminan dasar manusia (<em>al-ushûl al-khamsah</em>) yang meliputi keyakinan agama (<em>hifdz al-dîn</em>), jiwa dan kehormatan (<em>hifdz al-nafs</em>), keselamatan akal (<em>hifdz al-aql</em>), keluarga dan keturunan (<em>hifdz al-nasl</em>) dan hak milik (<em>hifdz al-mâl</em>). Juga harus benar-benar untuk kepentingan umum dan tidak boleh mengorbankan kepentingan umum lain yang sederajat atau yang lebih besar.</p>
<p>Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, peran warga masyarakat dan lembaga keagamaan menjadi sangat menentukan dalam perumusan maslahah âmmah. Dalam hal ini, prinsip syurâ sebagaimana ditegaskan QS 42:28 menjadi sangat strategis. Ditegaskan pula, rakyat secara keseluruhan wajib memberikan dukungan positif sekaligus kontrol kritis secara berkelanjutan terhadap lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.</p>
<p>Muktamar Cipasung mengamanatkan, rumusan tersebut perlu diaktualisasikan sebagai landasan untuk menyikapi masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Dalam konteks kekinian, aktualisasi prinsip maslahah âmmah menjadi sangat relevan pasca-terbitnya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan <em>International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights </em>(Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya), yang selaras dengan <em>maqâshid al-syarî’ah</em>.</p>
<p>Pasalnya, meski hak-hak tersebut telah dijamin konstitusi, namun pemenuhannya masih jauh dari ideal. Contoh paling sederhana adalah pemenuhan hak atas pendidikan dan kesehatan. Juga, hak atas standar hidup yang layak, termasuk pangan, sandang, dan perumahan serta hak terbebas dari kelaparan.</p>
<p><strong>Pelembagaan Partisipasi</strong></p>
<p>Pertanyaannya kemudian, apa yang harus dilakukan NU untuk mengaktualisasikan prinsip-prinsip maslahah âmmah tersebut dalam konteks kebijakan publik? Menurut hemat penulis, salah satu hal penting yang harus segera dilakukan adalah mendorong pelembagaan partisipasi masyarakat dalam proses perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan publik di daerah.</p>
<p>Proses pelembagaan partisipasi tersebut antara lain dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut. <em>Pertama</em>, mendorong kepengurusan NU mulai tingkat ranting hingga cabang untuk berperan aktif dalam proses musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Selama ini, kehadiran warga NU dalam proses permusyawaratan semacam itu lebih sering sebagai representasi organ korporatis negara seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan (LPMD/K), Badan Perwakilan Desa (BPD), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), atau Karang Taruna. Akibatnya, aspirasi yang mereka bawa seringkali kurang mencerminkan kebutuhan warga NU di tingkat akar rumput.</p>
<p><em>Kedua</em>, mendorong berkembangnya halaqah-halaqah terkait isu kebijakan publik. Misalnya, halaqah (transparansi) anggaran, pemenuhan hak-hak ekonomi sosial dan budaya, atau analisis kebijakan publik. Juga, menggalakkan program penguatan kapasitas seperti pelatihan semacam <em>legal drafting</em>, <em>participatory budgeting</em>, atau pelatihan advokasi kebijakan.</p>
<p>Ketiga, mendorong adopsi pendekatan HMA dalam skala yang lebih luas pada proses pemilihan kepala daerah kabupaten/kota dan pemilihan anggota legislatif pada Pemilu 2009. Pemenuhan anggaran pendidikan, jaminan sosial di bidang kesehatan atau perlindungan pedagang pasar tradisional, misalnya, merupakan isu yang mudah dicerna untuk dijadikan bahan penyusunan komitmen antara masyarakat di tingkat akar rumput dengan calon anggota legislatif di daerah.</p>
<p>Dengan langkah-langkah tersebut, dinamika politik NU diharapkan akan lebih terarah untuk pencapaian visi yang berjangka panjang dan menjangkau generasi berikutnya. Bukan sekadar sibuk memikirkan proses pemilihan yang datang silih berganti, layaknya politisi. Pengurus NU di berbagai tingkatan pun akan menjadi negarawan yang menjadi barometer bagi kehidupan politik di tingkat lokal, bukan malah menjadi “termometer”. Wallahua’lam.</p>
<p>Artikel ini dimuat Jawa Pos, 21 Juni 2008.</p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/285/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=285&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/03/halaqah-maslahah-ammah-babak-baru-politik-nu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/10/miskin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">miskin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alarm Radikalisme dari Mimbar Masjid</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/02/alarm-radikalisme-dari-mimbar-masjid/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/02/alarm-radikalisme-dari-mimbar-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 11:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percikan Nalar]]></category>
		<category><![CDATA[nkri]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[takmir masjid]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Perburuan terhadap jejaring teroris memasuki babak baru. Seminggu setelah ditahan atas dugaan terlibat dalam pendanaan terorisme, Muhammad Ricky Ardhan alias Muhammad Jibril pun akhirnya ditetapkan secara resmi sebagai tersangka, Selasa (1/9).
Berbeda dengan tersangka lain, penahanan putra Fihiruddin Awwas alias Abu Jibril ini boleh dibilang paling “menghebohkan”. Pasalnya, selama penahanan Ricky, Fihiruddin terlibat perang opini yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=279&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-medium wp-image-282" title="radikal" src="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/10/radikal2.jpg?w=300&#038;h=221" alt="radikal" width="300" height="221" />Perburuan terhadap jejaring teroris memasuki babak baru. Seminggu setelah ditahan atas dugaan terlibat dalam pendanaan terorisme, Muhammad Ricky Ardhan alias Muhammad Jibril pun akhirnya ditetapkan secara resmi sebagai tersangka, Selasa (1/9).<span id="more-279"></span></p>
<p>Berbeda dengan tersangka lain, penahanan putra Fihiruddin Awwas alias Abu Jibril ini boleh dibilang paling “menghebohkan”. Pasalnya, selama penahanan Ricky, Fihiruddin terlibat perang opini yang cukup sengit dengan pihak kepolisian. Irfan Suryahardy Awwas, paman Ricky yang menjabat Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) juga turun gelanggang untuk membantu sang keponakan.</p>
<p>Sebelumnya, perburuan teroris juga sempat merepotkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hal itu terjadi setelah polisi mengumumkan “Trio Cilimus” &#8211;Saefudin Jaelani, M Syahrir dan Ibrohim— sebagai “tokoh kunci” di balik bom Mega Kuningan.</p>
<p>Sebagaimana diketahui, Saefudin Jaelani dan M Syahrir yang dinyatakan sebagai buron adalah adik kandung Anugerah, mantan anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari PKS. Syahrir juga tercatat pernah aktif di partai tersebut saat masih bernama Partai Keadilan (PK). Sementara itu, Ibrohim adalah adik ipar Anugerah. Ia dinyatakan tewas dalam penyergapan di Temanggung.</p>
<p>Untuk menetralkan opini yang tidak menguntungkan, Anugerah menggelar konferensi pers di markas PKS. Ia menjelaskan bahwa kedua adiknya mempunyai perbedaan prinsip dengannya.</p>
<p><strong>Sisi Lain</strong><br />
Di luar dugaan terkait dengan jejaring terorisme, sosok Saefudin dan Fihiruddin menarik untuk dicermati. Sebagaimana diketahui, Saefudin adalah imam di Masjid As-Surur, Perumahan Telaga Kahuripan, Kabupaten Bogor. Sedangkan Fihirudin adalah imam Masjid Al-Munawaroh, Perumahan Witanaharja, Pamulang, Tangerang Selatan.</p>
<p>Beberapa media melansir, meski belum genap setahun tinggal di Perumahan Telaga Kahuripan, Saefudin sudah bisa mengambil hati warga dan menjadi imam masjid. Penampilannya yang santun, wajah yang cukup tampan dan bacaan Al-Quran yang baik menjadi faktor pendukung.</p>
<p>Di luar penampilan yang mengundang simpati itu, Saefudin dikabarkan sering memuji “Trio Bom Bali” &#8211;Amrozi, Imam Samudera dan Ali Ghufron&#8211; dalam pengajiannya. Saefudin juga menyebut mereka sebagai “pahlawan Islam” dan memasang gambar mereka di masjid. Belakangan, warga pun terkejut ketika Saefudin dinyatakan berperan sebagai perekrut “pengantin” alias pelaku bom bunuh diri di Mega Kuningan.</p>
<p>Berbeda dengan Saefudin, Fihirudin dikabarkan sejak awal memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan tetangga di lingkungan perumahannya. Pemicunya, dia dianggap sangat keras dalam berdakwah. Model ceramahnya juga cenderung memicu perbedaan paham agama dengan warga. Tidak hanya itu, dominasi jamaah Abu Jibril dalam kegiatan masjid juga dikeluhkan warga (<em>Jawa Pos</em>, 26/8).</p>
<p>Di antara pemicu perbedaan paham dan ketidaknyamanan warga karena Fihiruddin tidak setuju (baca: melarang) kegiatan tahlil dan bacaan qunut saat salat Subuh. Dia juga dianggap menggeser posisi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Munawaroh. Meski membantah hal tersebut, Fihiruddin mengakui dirinya beserta para pengikutnya memang tidak menganjurkan tahlil dan qunut. Alasannya, hal itu tidak ada dalam Al-Quran dan hadits (<em>Detikcom</em>, 27/08).</p>
<p><strong>Alarm Radikalisme<br />
</strong>Dalam perspektif fikih, perdebatan soal tahlil dan qunut sebenarnya hanyalah kategori furu’iyah (cabang, bukan pokok) yang telah berumur sangat tua. Sebagaimana juga perdebatan tentang jumlah rakaat tarawih, ritual maulid Nabi atau talkin jenazah. Tapi, dalam perspektif pergaulan sosial, hal-hal tersebut sekaligus dapat menjadi ukuran seberapa toleran atau radikal pandangan seorang imam masjid atau tokoh dalam menyikapi keragaman paham dan praktik keagamaan masyarakat di lingkungannya.</p>
<p>Lebih dari itu, kasus Saefudin dan Fihiruddin membuktikan bahwa sinyalemen Nahdlatul Ulama (NU) tentang adanya perebutan pengaruh melalui jejaring mimbar dan takmir masjid oleh gerakan Islam transnasional berideologi wahabi dan Islam radikal bukanlah pepesan kosong.</p>
<p>Di luar perdebatan tentang ritual keagamaan, sejak tiga tahun lalu NU sebenarnya telah mengingatkan pemerintah bahwa gerakan tersebut dapat menjadi ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, peringatan tersebut cenderung dianggap angin lalu.</p>
<p>Dalam konteks terkini, temuan hasil riset Center for Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang dirilis akhir Januari lalu mungkin dapat memberi gambaran tentang seberapa besar ancaman gerakan dimaksud. Riset tersebut memotret persepsi takmir masjid di DKI Jakarta tentang sistem pemerintahan, formalisasi syariat, jihad, kesetaraan gender dan pluralisme.</p>
<p>Terkait dengan sistem pemerintahan, sebanyak 78,4% dari 250 takmir yang diteliti setuju bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik bagi Indonesia. Namun, 20,8% takmir lainnya menyatakan setuju bahwa umat Islam wajib mendirikan negara Islam. Dan, 32% takmir juga setuju bahwa umat Islam wajib memperjuangkan tegaknya khilafah Islamiyah.</p>
<p>Sementara itu, 44,8% takmir setuju bahwa umat Islam wajib memperjuangkan berlakunya kembali Piagam Jakarta. Selain itu, 14,4% takmir pun setuju bahwa pemerintah yang tidak menerapkan syariat Islam wajib diperangi.</p>
<p>Temuan lainnya, sekitar 15,2% takmir setuju dengan pandangan bahwa jihad yang paling utama adalah perang. Di luar itu, sebanyak 8,8% takmir setuju bahwa untuk menegakkan amar makruf nahi munkar diperbolehkan melakukan tindak kekerasan.</p>
<p>Secara umum, temuan hasil penelitian tersebut memang menunjukkan bahwa paham Islam moderat masih dominan. Namun, potensi radikalisme yang tergambar di dalamnya tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, bukan tidak mungkin persepsi serupa dapat ditemukan pada takmir masjid di berbagai penjuru nusantara. Dan, hampir dapat dipastikan para takmir tersebut akan menyebarkan ideologinya melalui mimbar masjid dengan memilih khatib dan dai yang sealiran.</p>
<p>Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara tepat dan cepat, agar paham dan gerakan Islam radikal tidak semakin berkembang. Misalnya, dengan memfasilitasi penguatan peran sosial ormas keagamaan dan kelompok Islam moderat yang memiliki komitmen tegas terhadap Pancasila dan keutuhan NKRI. Juga, menjadikan masjid sebagai pusat pelayanan umat yang berdimensi sosial-ekonomi, bukan hanya sentra ritual keagamaan.</p>
<p>Lebih dari itu, pemerintah (mungkin) juga perlu memberikan rambu-rambu agar kegiatan dakwah –termasuk khotbah Jumat&#8211; tidak justru berpotensi menebar kebencian dan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Langkah tersebut akan lebih elegan daripada mengerahkan polisi untuk mengawasi kegiatan dakwah dan pemakai atribut pakaian tertentu. Bukankah Al-Quran juga menyerukan pentingnya dakwah dengan jalan hikmah dan nasehat yang baik? Wallahua’lam.</p>
<p>Nur Hidayat, <em>Khadim </em>PP Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang;  Wakil Sekretaris PWNU Jatim</p>
<p>Dimuat Majalah AULA, Edisi 10 Tahun XXXI, Oktober 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=279&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/02/alarm-radikalisme-dari-mimbar-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/10/radikal2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">radikal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ke Qatar Bahas Google</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/01/ke-qatar-bahas-google/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/01/ke-qatar-bahas-google/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 22:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Langkah]]></category>
		<category><![CDATA[asma society]]></category>
		<category><![CDATA[cordoba initiative]]></category>
		<category><![CDATA[qatar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[SURABAYA-SURYA
Dua kader Nahdlatul Ulama (NU), yakni Nur Hidayat SAg (Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah NU Jatim) dan Inayah Wulandari Wahid (Putri Gus Dur) akan bertolak ke Doha, Qatar.
Mereka akan mewakili Indonesia dalam &#8220;Muslim Leaders of Tomorrow (MLT) Conference&#8221; yang digelar di negara Arab itu pada 16-19 Januari 2009.
Forum dua tahunan yang diselenggarakan American Society for Muslim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=271&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-272" title="MLT Qatar Logo" src="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/10/mlt-qatar-logo.png?w=468&#038;h=184" alt="MLT Qatar Logo" width="468" height="184" />SURABAYA-SURYA</p>
<p>Dua kader Nahdlatul Ulama (NU), yakni Nur Hidayat SAg (Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah NU Jatim) dan Inayah Wulandari Wahid (Putri Gus Dur) akan bertolak ke Doha, Qatar.</p>
<p>Mereka akan mewakili Indonesia dalam &#8220;<em>Muslim Leaders of Tomorrow (MLT) Conference</em>&#8221; yang digelar di negara Arab itu pada 16-19 Januari 2009.<span id="more-271"></span></p>
<p>Forum dua tahunan yang diselenggarakan <em>American Society for Muslim Advancement</em> (ASMA) dan <em>Cordoba Initiative </em>itu akan diikuti 300 calon pemimpin muda Islam dari 76 negara sedunia.<br />
Yang dibahas antara lain keberadaan mesin pencari data dan informasi di internet, seperti <em>Google </em>dan <em>Yahoo. </em>Menurut Nur Hidayat, <em>searching machine </em>adalah revolusi informasi. Orang tinggal meng-<em>klik</em>, apa yang dicari akan langsung keluar semua.<br />
&#8220;Apakah mesin itu akan meruntuhkan keagamaan tradisional atau malah jadi peluang baru untuk diskusi keagamaan, itulah yang akan dibahas,&#8221; ujarnya, Rabu (14/1).<br />
Selain mendiskusikan tema-teman keagamaan, pertemuan itu juga diarahkan untuk menghasilkan surat terbuka yang ditujukan kepada semua pemimpin negara untuk mendorong dan menyerukan perdamaian.</p>
<p>Seruan ini momentumnya pas, karena sehari setelah pertemuan atau 20 Januari 2009, Barack Obama akan dilantik sebagai Presiden AS menggantikan George W Bush.</p>
<p>&#8220;Makanya, surat terbuka yang ditandatangani 300 pemuda muslim itu akan langsung disampaikan ke Obama. Harapannya, presiden negara adidaya dari kaum muda itu benar-benar dapat membawa perdamaian di muka bumi,&#8221; jelas mantan Ketua IPNU Jatim ini. [<strong>uji</strong>]</p>
<p>Sumber: Surya, 15 Januari 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=271&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2009/10/01/ke-qatar-bahas-google/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/10/mlt-qatar-logo.png" medium="image">
			<media:title type="html">MLT Qatar Logo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MLT Conference 2009: Satu Vas dengan Ratusan Bunga</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2009/09/30/mlt-conference-2009-satu-vas-dengan-ratusan-bunga/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2009/09/30/mlt-conference-2009-satu-vas-dengan-ratusan-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 13:14:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rihlah]]></category>
		<category><![CDATA[doha]]></category>
		<category><![CDATA[imam feisal abdul rauf]]></category>
		<category><![CDATA[mlt]]></category>
		<category><![CDATA[qatar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Pertengahan Januari lalu, Nur Hidayat, sekretaris Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak dan salah satu Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur mendapat kesempatan menghadiri Muslim Leaders of Tomorrow (MLT) Conference di Doha Qatar. Seperti apakah konferensi yang digelar pada 17-19 Januari 2008 tersebut? Berikut penuturannya kepada AULA.
Jarum jam menunjuk angka 05:40 ketika pesawat Qatar Airways [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=266&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-267" title="Hidayat-Feisal" src="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/09/hidayat-feisal.jpg?w=175&#038;h=150" alt="Hidayat-Feisal" width="175" height="150" />Pertengahan Januari lalu, Nur Hidayat, sekretaris Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak dan salah satu Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur mendapat kesempatan menghadiri <em>Muslim Leaders of Tomorrow </em>(MLT) <em>Conference </em>di Doha Qatar. Seperti apakah konferensi yang digelar pada 17-19 Januari 2008 tersebut? Berikut penuturannya kepada AULA.<span id="more-266"></span></p>
<p>Jarum jam menunjuk angka 05:40 ketika pesawat Qatar Airways mendarat di Doha Airport pada 16 Januari 2008 lalu. Cuaca masih sedikit gelap dengan temperatur udara sekitar 17 derajat celcius. Seorang warga Qatar keturunan Palestina yang naik sejak dari Singapore mengajak turun lewat tangga belakang pesawat.</p>
<p>Dengan sistem online, pelayanan di counter imigrasi hanya memerlukan waktu kurang dari dua menit. Copy visa yang dikirim panitia via email pun tidak dibutuhkan. Petugas hanya mengambil paspor, memasukkan nomor paspor dan semua data terkait visa dapat ditemukannya di layar komputer. Semua proses pun berlangsung sangat efisien.</p>
<p>Sayangnya, efisiensi pelayanan itu tidak berlanjut di counter Hotel Marriot Doha. Sekitar 17 peserta MLT Conference yang datang pagi itu harus menunggu shuttle bus lebih dari setengah jam. Pasalnya, bus yang seharusnya berada di bandara malah diparkir di hotel.</p>
<p>Seusai sarapan pagi, saya tertidur hingga pukul 11.15. Rombongan salat Jumat sudah berangkat setengah jam sebelumnya. Akhirnya saya harus puas menjalankan salat Jumat di masjid kecil yang berlokasi di sudut areal hotel.</p>
<p><strong>Surat Terbuka</strong></p>
<p>Keesokan harinya, forum konferensi yang diikuti 300 peserta dari 76 negara itupun dibuka secara resmi. Acara diawali pidato pembukaan oleh Imam Feisal Abdul Rauf, yang membuat seluruh hadirin terhanyut kedalaman untaian petuah dan hikmah yang disampaikannya.</p>
<p>Feisal adalah Imam Masjid Al-Farah yang berlokasi hanya beberapa ratus meter dari menara kembar <em>World Trade Center </em>(WTC) New York yang runtuh pada 11 September 2001. Ia juga pendiri <em>American Society for Muslim Advancement </em>(ASMA) dan <em>Cordoba Initiative </em>yang menggagas acara ini sejak 2004. Salah satu bukunya, <em>What is Right about Islam </em>telah diterbitkan Mizan dalam versi Indonesia dengan judul Seruan Azan dari Puing WTC.</p>
<p>MLT Conference di Doha merupakan yang ketiga setelah dua konferensi sebelumnya digelar di New York, AS (2004) dan Copenhagen, Denmark (2006). Bedanya, jika dua konferensi sebelumnya hanya diikuti delegasi Amerika dan Eropa, Konferensi Doha menjadi forum global pertama yang diikuti oleh peserta dari berbagai benua.</p>
<p>Dari sisi momentum, Konferensi New York digelar dua tahun pasca-tragedi runtuhnya menara kembar WTC. Sedangkan Konferensi Copenhagen digelar ketika kontroversi Kartun Nabi masih hangat dalam ingatan publik.</p>
<p>Bagaimana dengan Konferensi Doha? Forum ini ditutup persis sehari sebelum pelantikan Presiden AS Barack Husein Obama. Dan, salah satu agenda utama forum ini adalah penandatanganan dokumen bertitel “Surat Terbuka untuk Pemimpin Dunia Hari Ini dari Pemimpin Muslim Masa Depan” (<em>Open Letter to the World Leaders of Today from the Muslim Leaders of Tomorrow</em>).</p>
<p>Obama bukan satu-satunya pemimpin dunia yang akan dikirimi surat terbuka tersebut. Tapi, sebagai pemimpin muda dari sebuah negara yang berpengaruh, dia akan menjadi presiden yang harus membaca surat tersebut pada hari pertama masa jabatannya.</p>
<p>Isi surat terbuka itu merupakan rangkuman dari berbagai harapan dan masukan peserta yang telah dikirimkan sebelumnya. Poin pertama, misalnya, menutut para pemimpin dunia mendorong terpenuhinya hak-hak dasar setiap warga negara. Juga, meminta mereka mendukung setiap kebijakan yang mendorong kemajuan dan terpenuhinya HAM. Bukan malah mendukung kebijakan yang memicu peperangan.</p>
<p>Tuntutan lainnya adalah pelibatan kaum muda dalam kehidupan politik dan bernegara. Dengan cara itu, kaum muda diharapkan akan dapat berpartisipasi dan memberikan kontribusi positif serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai problem yang terjadi di masyarakat.</p>
<p>Forum juga mengharapkan para pemimpin dunia menghargai kontribusi setiap warga negara, baik muslim maupun non-muslim, dalam membangun komunitasnya masing-masing. Juga meminta mereka ikut menjaga nilai-nilai bersama terkait perdamaian, penghargaan terhadap pluralisme, dan kerjasama antara komunitas muslim dan non-muslim.</p>
<p>Yang tidak kalah penting, forum menuntut adanya dialog yang jujur dan setara antar para pemimpin berbagai negara. Setiap pemimpin diharap mengedepankan dialog dan diplomasi untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan.</p>
<p><strong>Vas Bunga</strong></p>
<p>Mengikuti konferensi selama tiga hari tersebut, waktu terasa berjalan sangat cepat. Acara yang digelar mulai pukul sembilan pagi hingga sembilan malam itupun terasa masih sangat sempit untuk sekadar membicarakan ide-ide besar pemuda muslim dari berbagai benua tersebut.</p>
<p>Tapi, bayangan saya bahwa forum itu akan dihadiri oleh pegiat lembaga-lembaga keagamaan ternyata meleset jauh. Sebab, MLT Conference ternyata dihadiri oleh kaum muda dari berbagai latar belakang profesi.</p>
<p>Ketika sarapan hari pertama, saya duduk satu meja dengan seorang warga Palestina yang menjadi dosen di Tel Aviv, ibukota Israel. Di sampingnya, duduk seorang perempuan manajer marketing perusahaan properti yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab.</p>
<p>Memasuki sesi pembukaan, saya duduk bersama seorang pemuda yang selalu berpakain necis, dosen University of Michigan, AS. Beberapa saat kemudian, datang tiga perempuan yang berasal dari Belanda. Seorang di antaranya berjilbab, pengasuh acara televisi populer yang berjudul The Girls of Halal. Dua orang lainnya tidak berjilbab. Satu orang berprofesi sebagai penyiar dan satunya lagi adalah konsultan sebuah lembaga donor internasional untuk program di Afghanistan.</p>
<p>Pendek kata, hampir semua profesi terwakili. Mulai imam masjid, guru madrasah, dosen, hakim, pengacara, konsultan marketing, seniman, pegiat lembaga swadaya masyarakat, hingga blogger berkumpul di forum ini. Forum MLT pun tampak seperti vas bunga yang berisi ratusan bunga warna-warni nan mempesona.</p>
<p>Acara hari pertama itu juga diawali presentasi dari komik The 99th yang dikembangkan oleh <em>Teshkeel Corporation</em>. The 99th adalah komik yang mengambil karakter superhero dari inspirasi Asmaul Husna. Di Indonesia, komik tersebut diterbitkan oleh Grup Femina.</p>
<p>Pada hari kedua, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu panelis dalam diskusi panel yang membahas perubahan pola komunikasi masyarakat di era internet dan pengaruhnya terhadap otoritas keagamaan tradisional.</p>
<p>Sesi ini membahas perkembangan berbagai acara keagamaan di televisi dan pemanfaatan internet sebagai salah satu sumber “ilmu agama”. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, bagaimana otoritas keagamaan tradisional menjawab perubahan tersebut.</p>
<p>Salah satu simpulan diskusi panel tersebut, perkembangan dan perubahan pola komunikasi itu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan oleh pemegang otoritas keagamaan tradisional. Salah satu caranya adalah dengan mendorong para kader agamawan untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi.</p>
<p>Dikutip dari Majalah AULA, Februari 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=266&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2009/09/30/mlt-conference-2009-satu-vas-dengan-ratusan-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mazhida.files.wordpress.com/2009/09/hidayat-feisal.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hidayat-Feisal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pidato Bung Tomo pada Peristiwa 10 November 1945</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/29/pidato-bung-tomo-pada-peristiwa-10-november-1945/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/29/pidato-bung-tomo-pada-peristiwa-10-november-1945/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 10:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terpilih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim&#8230;
Merdeka!!!
Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia, teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja.
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea. Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.
Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=255&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><a href="http://mazhida.files.wordpress.com/2008/10/bung-tomo.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-256" title="bung-tomo" src="http://mazhida.files.wordpress.com/2008/10/bung-tomo.jpg?w=90&#038;h=152" alt="" width="90" height="152" /></a>Bismillahirrahmanirrahim&#8230;</em></p>
<p>Merdeka!!!</p>
<p>Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia, teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja.</p>
<p>Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea. Kita diwadjibkan oentoek <span id="more-255"></span>dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.</p>
<p>Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.</p>
<p>Saoedara-saoedara, didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa ra’jat Indonesia di Soerabaja pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe, pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi, pemoeda pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali, pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan, pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera, pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli &amp; seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini, di dalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng kampoeng, telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol, telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana.</p>
<p>Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara. Dengan mendatangkan presiden &amp; pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran. Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.</p>
<p>Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini. Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia, ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini. Dengarkanlah ini hai tentara Inggris, ini djawaban ra’jat Soerabaja ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian.</p>
<p>Hai tentara Inggris!, kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe, menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe, kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe.</p>
<p>Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada, Tetapi inilah djawaban kita: Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah &amp; putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!</p>
<p>Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja, siaplah keadaan genting tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak, baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.</p>
<p>Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka. Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka. Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.</p>
<p>Dan kita jakin, saoedara-saoedara, pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian.</p>
<p>Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar!</p>
<p>MERDEKA!!!</p>
<p>Dikutip dari Radar Surabaya, 29 Oktober 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=255&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/29/pidato-bung-tomo-pada-peristiwa-10-november-1945/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mazhida.files.wordpress.com/2008/10/bung-tomo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bung-tomo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasiran</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/26/kasiran/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/26/kasiran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 02:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serambi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Kasiran. Umurnya 45 tahun. Dia adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sragen dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP). Jabatan terakhirnya sebelum meninggal adalah Sekretaris Komisi E DPRD Sragen.
Menurut rencana, Kasiran akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tanggal 19 Januari mendatang. Tidak tanggung-tanggung, ia akan berangkat dengan status sebagai salah satu anggota Tim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=250&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Namanya Kasiran. Umurnya 45 tahun. Dia adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sragen dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP). Jabatan terakhirnya sebelum meninggal adalah Sekretaris Komisi E DPRD Sragen.<span id="more-250"></span></p>
<p>Menurut rencana, Kasiran akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tanggal 19 Januari mendatang. Tidak tanggung-tanggung, ia akan berangkat dengan status sebagai salah satu anggota Tim Pendamping Haji Daerah (TPHD) Sragen. Untuk keberangkatan haji ini, ia sudah menggelar acara tasyakuran pada tanggal 29 Desember 2002.</p>
<p>Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Itulah yang terjadi pada Kasiran. Tepat pada saat keberangkatan kelompok terbang (kloter) pertama calon jamaah haji Indonesia pada tanggal 9 Januari lalu, Kasiran meninggal dunia. Yang menyedihkan, ia meninggal dunia dalam keadaan setengah telanjang dalam pelukan kekasih gelapnya, Sudarmi (35), yang juga meninggal dunia bersama dengannya.</p>
<p>Keduanya meninggal di sebuah kamar Hotel Komajaya-Komaratih di kawasan wisata Tawangmangu, Karanganyar. Di kamar hotel tersebut, polisi menemukan satu botol bir putih, satu botol bir hitam, dua botol minuman energi, dan puluhan pil sebesar mrica yang plastiknya terbuka.</p>
<p>Kematian tersebut cukup mengejutkan dan bisa jadi memalukan. Apalagi, konon, Sudarmi yang berprofesi sebagai pesinden sebenarnya tidak lebih cantik daripada istri sah Kasiran, Sulastri. Di sisi lain, dalam kesehariannya, Kasiran juga dikenal sebagai orang yang lurus-lurus saja. Aktivitas sosial-keagamannya juga cukup banyak, mulai mengisi pengajian dalam rangka pemberantasan buta huruf al-Quran sampai menjadi Ketua Pembangunan Pondok Pesantren Syifa’ul Qolbi di Sragen Tengah (<em>Surya</em>, 11/1).</p>
<p>Kematian adalah sebuah keniscayaan. Tapi pasti tidak seorang pun yang pernah berharap akan mengalami kematian seperti yang dialami Kasiran. Bahkan, andai boleh memilih, tentu Kasiran sendiri tidak akan bersedia didatangi malaikat pencabut nyawa dalam kondisi demikian.</p>
<p>Tetapi, ajal dan kematian tetaplah sebuah misteri yang berada di luar jangkauan nalar dan penjelajahan empirik. Misteri itu sendiri diciptakan oleh Tuhan sebagai ujian bagi setiap manusia, sebagaimana firman-Nya, “<em>(Dia) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun </em>(QS 67:2)”.</p>
<p>Terlepas dari bagaimana nilai “rapor” Kasiran di mata Tuhan, kematiannya mengandung beberapa pelajaran (<em>‘ibrah</em>) yang sangat berharga bagi kita semua. Pertama, banyaknya aktivitas sosial dan keagamaan seseorang –apalagi yang berbau formalistik dan simbolik&#8211; tidak menjadi jaminan bagi tingginya penghayatan spiritual dan relijiusitas orang tersebut. Di era yang penuh dengan distorsi dan disorientasi nilai seperti sekarang, kita tidak lagi bisa menilai seseorang hanya berdasar penampilan lahiriah. Apalagi jika orang tersebut adalah seorang politisi. Sebab, dunia politik selalu rame ing pamrih.</p>
<p>Kedua, jika mau jujur, sebenarnya Kasiran “tidak sendirian”. Artinya, sebenarnya Kasiran hanyalah “representasi” dari ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan orang. Ia adalah cermin retak bagi orang-orang yang berteriak lantang tentang kebenaran, kejujuran, keadilan, etika, moralitas, dan nilai-nilai luhur lainnya di atas panggung (panggung apapun, tidak hanya panggung politik!!!), sementara di belakang panggung tidak jarang mereka “berselingkuh” dengan nilai-nilai yang &#8211;ketika berada di atas panggung&#8211; selalu mereka lawan. Bisa jadi, ia hanyalah satu di antara sekian ribu pemain peran yang cukup piawai memainkan peran dan karakter protagonis di atas panggung, yang tidak mencerminkan karakter asli mereka.</p>
<p>Kematian Kasiran menjadi sebuah peringatan bagi kita semua untuk selalu konsisten dalam setiap pikiran-kata-perilaku. Sebagai sebuah peringatan, tentu ia hanya akan berpengaruh tatkala kita memasukkan bayangan kematian itu dalam kesadaran kita. Sekali kita abaikan, maka peringatan itu tidak akan bermakna apa-apa. Konsekuensinya  adalah, <em>na’udzu billahi min dzalik</em>, kita harus siap setiap saat untuk mengalami kematian dalam keadaan yang bisa jadi tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Dalam sebuah tulisannya, Kang Jalal (1999:192) antara lain menyatakan, “Ingat kepada kematian mendorong manusia berbudi baik. Ia akan menjadikan amal salih sebagai bekal untuk kehidupan sesudah kematian. Sadar akan kematian berarti sadar akan ketiadaan Ego dan <em>‘nonbeing’</em>. Bila kita harus mengakhiri semuanya dengan kematian, masih absahkah kebiasaan kita untuk terus menerus mengorbankan orang lain buat kepentingan kita?”</p>
<p>Akhirnya, marilah kita berdoa semoga kematian Kasiran hanyalah sebuah “kisah fiksi” yang dibuat oleh Tuhan untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita semua. Semoga Dia berkenan mengampuni segala kesalahannya dan kesalahan kita. Amin.</p>
<p>Duta Masyarakat, 14 Januari 2003</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=250&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/26/kasiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Ketulusan dan Keculasan</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/23/tentang-ketulusan-dan-keculasan/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/23/tentang-ketulusan-dan-keculasan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 06:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serambi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Minggu ini, saya mendapatkan tiga pelajaran berharga tentang dua sisi dunia: ketulusan dan keculasan.
Pelajaran pertama, tentang ketulusan, bersumber dari cerita Pak Masyhudi, Sekretaris PWNU Jatim. Cerita bermula ketika Senin siang (20/10), Pak Masyhudi dan dua orang staf PWNU melakukan perjalanan ke Kawasan Gemblongan, Surabaya, untuk membeli mebelair dan karpet.
Ketika tiba waktu salat dzuhur, ketiganya melaksanakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=245&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Minggu ini, saya mendapatkan tiga pelajaran berharga tentang dua sisi dunia: ketulusan dan keculasan.<span id="more-245"></span></p>
<p>Pelajaran pertama, tentang ketulusan, bersumber dari cerita Pak Masyhudi, Sekretaris PWNU Jatim. Cerita bermula ketika Senin siang (20/10), Pak Masyhudi dan dua orang staf PWNU melakukan perjalanan ke Kawasan Gemblongan, Surabaya, untuk membeli mebelair dan karpet.</p>
<p>Ketika tiba waktu salat dzuhur, ketiganya melaksanakan salat di salah satu musholla kampung di kawasan itu. Pada rekaat ketiga, datang seseorang yang ikut bergabung ke dalam jamaah kecil tersebut. Walhasil, saat ketiga orang tersebut mengakhiri salat dan wirid pendeknya, makmum terakhir itu baru memasuki rakaat ketiga.</p>
<p>Beberapa saat setelah meninggalkan masjid, Sulaiman, salah satu staf  PWNU, baru sadar jika HP-nya tertinggal di musholla tersebut. Ketika coba dihubungi, ternyata HP tersebut dibawa oleh seseorang. Dengan lugas orang tersebut menjawab, &#8220;Silahkan kembali ke musholla, saya tunggu&#8221;.</p>
<p>Setelah bertemu, orang tersebut bercerita bahwa dia membatalkan salatnya demi untuk menyelamatkan HP tersebut. Sebab, ujar dia, jika dia memaksakan diri melanjutkan salat dan ada orang lain yang mengambil HP itu, maka dia tidak mungkin bisa menyelamatkan barang berharga  tersebut. Maka, satu-satunya pilihan adalah membatalkan salat, mengamankan HP, dan kemudian memulai salat dzuhur lagi dari awal.</p>
<p>Uniknya, ketika sang pemilik HP hendak memberikan uang sebagai tanda terima kasih, orang tersebut menolaknya. Tanpa bermaksud basa-basi, dia menjawab, &#8220;Saya tidak melakukan apa-apa. Hanya mengambil HP tersebut biar tidak diambil orang. Jadi saya tidak berhak menerima apa-apa&#8221;.</p>
<p>Yang lebih mengharukan, ternyata keseharian orang tersebut &#8220;hanya&#8221; berjualan teh dan makanan ringan di warung pinggir jalan kampung itu.</p>
<p>Pelajaran berharga pertama adalah: jangan pernah tutup mata terhadap realitas sosial dengan alasan sedang menyembah Tuhan.</p>
<p>Pelajaran kedua datang dari seorang sopir taksi. Selasa pagi (21/10), saya naik taksi dari kawasan Embong Malang menuju Pakuwon. Di dalam taksi, sang sopir yang warga Kota Batu bercerita bahwa tadi malam dia hampir &#8220;ketiban rezeki&#8221;.</p>
<p>Kisahnya, malam itu dia mendapatkan penumpang seorang perempuan, yang menurut penuturannya, sangat cantik. Oleh si penumpang, Pak Sopir yang lebih suka disebut &#8220;Jenderal Hasan&#8221; itu diajak untuk check-in ke salah satu hotel, dengan iming-iming uang Rp 100 ribu.</p>
<p>Kepada saya, &#8220;Jenderal Hasan&#8221; bercerita sempat ragu untuk memutuskan sikap. Di satu sisi, godaan itu begitu memikat dan datang tanpa diundang. Di sisi lain, dia masih berusaha untuk menjaga akal sehatnya dengan mengingat anak-istri di rumah. Akhirnya, &#8220;Sang Jenderal&#8221; memutuskan untuk menolak tawaran &#8220;dewi fortuna&#8221; itu dengan halus.</p>
<p>Pelajaran moral kedua: tidak semua &#8220;pekerja jalanan&#8221; memiliki gaya hidup &#8220;tidak sehat&#8221;.</p>
<p>Pelajaran ketiga juga datang dari seorang sopir taksi. Bedanya, ini pelajaran tentang keculasan.</p>
<p>Selasa siang (21/10), setelah paginya diantar oleh &#8220;Jenderal Hasan&#8221;, saya kembali naik taksi untuk kembali ke sebuah hotel di kawasan Embong Malang. Saat hendak keluar dari lokasi acara di Pakuwon Indah, saya melihat gelagat mencurigakan dari sopir taksi yang bernama Imam  S.</p>
<p>Demi tidak menyinggung perasaannya, saya berpura-pura mengetik SMS sambil memperhatikan gelagatnya melalui spion yang ada di depan sopir. Ternyata, ketika kendaraan baru berjalan sekitar 500 meter, Imam berusaha berbelok ke arah yang salah (dengan harapan tarif argonya akan bertambah mahal).</p>
<p>Begitu kendaraan berbelok ke arah yang keliru (arah kiri), saya segera menegur halus, &#8220;Kenapa kok ndak belok kanan? Sampean mau ke mana?&#8221; Mendengar itu, sang sopir gugup dan berkata spontan, &#8220;Oh, ke kanan ya, Pak? Saya kira ke kiri.&#8221; Padahal, sebelum berbelok ke kiri, dia sempat melirik saya di spion dan kemudi juga sempat beberapa detik hendak dibelokkan ke kanan, tapi kemudian dibatalkan setelah dia merasa saya sedang lengah.</p>
<p>Setelah itu, saya gertak sopir tersebut dengan intonasi yang datar, &#8220;Turunkan saya di PTC. Dan ingat, saya sudah catat nomor lambung sampean&#8221;. Mendengar kalimat itu, Imam gelagapan dan segera meminta maaf. Berkali-kali dia minta maaf dengan mengatakan tidak tahu arah, berkali-kali pula saya menegaskan bahwa ulahnya disengaja dan saya beberkan pengamatan saya tentang lirikan matanya ke spion.</p>
<p>Akhirnya, saya lelah meladeni sopir nakal ini, meski tetap tidak tega untuk turun di tengah jalan. Saya kemudian hanya diam seribu bahasa. Imam terus meracau meminta maaf dan mengatakan tidak tahu arah.</p>
<p>Ketika sadar sikap diam saya sebagai ekspresi kemarahan, Imam berkata pasrah, &#8220;Ya sudah, kalau Bapak mau komplain ke kantor, silahkan saja. Paling-paling saya diskors tiga bulan&#8221;. Merasa di atas angin, saya hanya jawab, &#8220;Sekali lagi sampean bilang tidak tahu arah, saya akan komplain ke kantor. Lha wong jelas-jelas tadi sampean sengaja kok. Mengerti?&#8221; Giliran dia yang diam seribu bahasa. Sampai kemudian saya memutuskan untuk turun di Gramedia Expo, untuk membeli buku.</p>
<p>Pelajaran moral ketiga: kita harus selalu waspada, meski tidak perlu berprasangka. Dengan kewaspadaan tinggi, niat culas orang terhadap kita akan bisa kita patahkan dengan mudah.</p>
<p>Surabaya, 22 Oktober 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=245&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/23/tentang-ketulusan-dan-keculasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Memilih Islam</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/26/mereka-memilih-islam/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/26/mereka-memilih-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 04:32:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terpilih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[London (ANTARA News) &#8211; Dalam ruang tamu teras rumah di London Utara, Islington, dengan terbata-bata Tony, pria Inggris, belajar mengaji dengan metode Iqro&#8217; dibimbing Muhammad Hilaal Abubakar, pria kelahiran Singapura yang beribu asal Yogyakarta. 
Sore itu, di tengah hujan rintik-rintik, Tony yang baru masuk Islam beberapa bulan lalu bertekad untuk belajar dan mengetahui lebih banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=243&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>London (ANTARA News) &#8211; Dalam ruang tamu teras rumah di London Utara, Islington, dengan terbata-bata Tony, pria Inggris, belajar mengaji dengan metode <em>Iqro&#8217; </em>dibimbing Muhammad Hilaal Abubakar, pria kelahiran Singapura yang beribu asal Yogyakarta. <span id="more-243"></span></p>
<p>Sore itu, di tengah hujan rintik-rintik, Tony yang baru masuk Islam beberapa bulan lalu bertekad untuk belajar dan mengetahui lebih banyak mengenai Islam.</p>
<p>Sejak kejadian pemboman di Kota London, 7 Juli 2005, dan gencarnya media massa memojokan Muslim dan Islam tidak menyurut keinginan masyarakat Inggris dan lainnya mencari tahu mengenai agama yang dianggap jahat dan teroris ini.</p>
<p>Di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu, selain Tony dan Gaffar asal Inggris, juga ada Ciraan dan Cullan, keduanya dari Irlandia. Juga wanita semampai Aisya dari Ceko yang baru tamat belajar <em>Iqro&#8217;</em>, buku kecil metode belajar Al-Qur&#8217;an yang diterbitkan di Indonesia.</p>
<p>Buku <em>Iqro&#8217;</em> yang biasa digunakan mereka yang baru belajar membaca Al-Qur&#8217;an di tanah air itu digunakan Hilaal untuk mengenalkan dan membaca ayat-ayat suci Al-Qu&#8217;ran.</p>
<p>Ahli hukum itu mendirikan komunitas pengajian &#8220;Step to Allah&#8221;, yang khusus ditujukan bagi kaum muallaf dari berbagai negara dan warna untuk belajar dasar-dasar rukun agama Islam serta fondasi tauhid dan aqidah.</p>
<p>Banyak pria lain seperti Lukman, pria Inggris asal Lagos, dan James, yang kini menjadi Jamal, mengikuti pengajian dua mingguan di ruang tamu rumah Hilaal tersebut. Pengajian yang bermula dari acara minum kopi kelompok Laywers muda di perusahaan Advokasi di kawasan Euston, London.</p>
<p>Mereka adalah Mohammad Hilaal, Simon, Farhana, Yunus dan lainnya sering berkumpul untuk makan bersama atau sekedar minum kopi yang akhirnya membentuk kelompok pengajian.</p>
<p>Acara minum kopi memberikan inspirasi bagi Hilaal untuk membuat suatu pengajian kecil-kecilan yang kini berkembang dan bahkan mereka juga melakukan umroh bersama.</p>
<p>Pengajian yang dimulai ba`da Asyar, Hilaal yang sebelumnya tidak pernah belajar bagaimana berdakwah memberikan ceramah mengenai Islam dan melakukan shalat bersama dan diakhiri makan malam.</p>
<p>Meskipun ia bukan seorang pendakwah, Hilaal yang merupakan seorang ahli hukum yang dulunya adalah seorang dokter gigi dengan mahirnya menyampaikan ajaran Muhammad kepada muallaf Inggris.</p>
<p>Berkumpul bersama sambil mempelajari Islam dan yang telah melahirkan rasa persaudaraandan keakraban di antara mereka.<br />
<strong>Dari Hukum ke Agama</strong></p>
<p>Tidak pernah terfikir dibenak Hilaal di saat ia harus menterjemahkan bahasa agama dalam bahasa Inggris dari bahasa Melayu.</p>
<p>Menurutnya cukup pening mempelajari bahasa-bahasa hukum yang tengah ia geluti saat itu. Karenanya, tak pernah terlintas bahwa ia akan berhadapan dengan orang-orang atau teman-temannya yang bertanya dan minat tentang agama Islam.</p>
<p>Hilaal, seperti kebanyakan kaum muda yang hari-harinya sibuk bekerja membina karir, rasa-rasanya tak mungkin melakukan kegiatan ekstra di akhir pekan sampai pada suatu hari ia dituntut oleh suatu keadaan.</p>
<p>Simon teman seprofesi sering main ke rumah begitu tertarik tentang Islam. Buku-buku, leaflet, literature tentang Islam yang bertumpuk dirak buku atau meja kecil di ruang tamu itu menarik bagi Simon.</p>
<p>Konon Simon, pada saat itu tidak memiliki agama apapun, ia meminta ijin pada Hilaal untuk membawa pulang beberapa literatur agama Islam dan ia juga banyak bertanya karena begitu minatnya dengan Islam.</p>
<p>Hal ini membuat Hilaal terpaksa belajar istilah agama Islam dalam bahasa Inggris, yang membuatnya tertantang.</p>
<p>Selang beberapa pekan Simon begitu yakin dengan agama Islam, lalu ia meminta Hilaal untuk menemani dan mengantarnya untuk bersyahadat, pergilah mereka ke masjid besar Regent Park Mosque, di Park Road, London.</p>
<p>Usai bersyahadat Imam masjid menyarankan untuk bergabung dengan &#8220;Islamic Circle&#8221; mendengarkan ceramah yang berlangsung setiap hari Sabtu diselenggarakan di mesjid raya London itu.</p>
<p>Hilaal pun merasa bertanggung jawab mendampingi Simon yang berganti nama menjadi Syaiful. Ia mengajarinya bagaimana berwudhu, shalat, melafazkan surat-surat pendek saat shalat serta doa-doa yang mudah.</p>
<p>Di masjid, Hilaal banyak bertemu dengan para muallaf baik yang muda, setengah baya dan ia merasa banyak teman dan terasa bersaudaraan yang mendalam di antara mereka.</p>
<p>Seringnya mereka berteman dengan kelompok yang berjumlah enam orang ini, sambil berdiskusi dan belajar agama terbesitlah untuk membentuk sebuah peguyuban, &#8220;circle&#8221; atau pengajian untuk belajar agama.</p>
<p>Di kelompok itu tidak semua muallaf, bahkan ada yang lahir Muslim, namun tidak mempraktikkan shalat dan puasa dengan ikut pengajian mereka mulai shalat dan belajar agama Islam.</p>
<p>Datanglah James, Jason, Peter, Gavin, Stewart dan sebagainya yang kini namanya berubah. Jamal adalah nama yang paling banyak disukai muallaf Inggris yang kebanyakan berasal dari James.</p>
<p>Kelompok yang berjumlah enam orang membengkak dan kian membesar hingga mencapai 25-30 orang.</p>
<p>Akhirnya terbentuklah pengajian kecil yang diselenggarakan setiap hari Ahad atau Minggu yang juga kunjungan rutin ke masjid setiap hari Sabtu untuk mendengar ceramah dari para ustadz yang yang datang dari berbagai bangsa dan banyak memilki ilmu agama.</p>
<p>Menurut Nizma Agustjik yang dari awal pembentukan pengajian ikut membantu penuh mengatakan tadinya mereka tidak berminat untuk diberi nama untuk kelompok pengajian.<br />
<strong>Umroh Bersama </strong></p>
<p>Mereka juga sepakat untuk memberi nama kelompok pengajian dengan nama &#8220;Langkah Menuju Allah&#8221; atau &#8220;Steps to Allah&#8221; dan sekaligus mereka mendirikan mailing list terbentuk di pekan ketiga Mei 2006.</p>
<p>Saat ini menurut Nizma, &#8220;Steps to Allah&#8221; akan mencapai tiga tahun pada bulan Desember tahun ini dan anggotanya berjumlah 79 walaupun tidak selau datang semua.</p>
<p>&#8220;Saya tidak perlu kuantitas, jamaah yang banyak, namun kualitas adalah yang saya tekankan,&#8221; ujar Hilaal.</p>
<p>Keseharian Hilaal yang penuh dedikasi terhadap kegiatan dakwahnya yang cukup unik. Dia selalu berada di masjid usai bekerja untuk shalat maghrib lalu dilanjutkan mengajar Iqro dari buku Iqro Indonesia pada teman-teman muallaf hingga beberapa muridnya telah tamat dan bisa membaca Juz`ama.</p>
<p>Ramadhan tahun lalu Hilaal memimpin rombongan kecil sejumlah 12 orang untuk melakukan umrah pada 10 hari terakhir dan dirasakan bagaimana indahnya melakukan umrah bersama mereka.</p>
<p>Mereka begitu bersemangat melakukan ibadah dan berupaya berada di garis terdepan pada saat shalat, baik di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram, Mekkah. Yang lebih uniknya lagi di antara mereka ada yang baru pertama kali melakukan ibadah puasa.</p>
<p>Rombongan ini terdiri dari empat orang Inggeris, dua asal Filipina dan masing masing seorang dari Afrika, Malaysia dan Indonesia serta Bangladesh.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan tahun ini merupakan penyelenggaraan umroh kedua yang berjumlah 14 orang yang dipimpinnya yang juga dilakukan pada sepuluh hari terakhir, di antaranya Miya, wanita Indonesia dengan sang suami muallaf, Amin asal Belgia. (*)</p>
<p>Laporan Zeynita Gibbons, kontributor Antara.</p>
<p>© 2008 ANTARA.</p>
<p>Sumber: <a href="http://news.antara.co.id/arc/2008/9/21/mereka-memilih-islam/">http://news.antara.co.id/arc/2008/9/21/mereka-memilih-islam/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=243&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/26/mereka-memilih-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dengarlah Al Quran di Perjalanan</title>
		<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/24/dengarlah-al-quran-di-perjalanan/</link>
		<comments>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/24/dengarlah-al-quran-di-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 04:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mazhida</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terpilih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mazhida.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Sebentar lagi perjalanan mudik akan ditempuh jutaan orang ke berbagai penjuru. Dalam perjalanan panjang itu, boleh jadi tubuh akan lelah dan pikiran terbelah. Saat mengalami itu, apa obat penawarnya?
Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Yohan Kurniawan, menganjurkan pemudik mendengarkan Al Quran. &#8220;Banyak orang bertanya-tanya kenapa saya yang beragama Katolik dan mengajar di universitas Katolik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=238&subd=mazhida&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebentar lagi perjalanan mudik akan ditempuh jutaan orang ke berbagai penjuru. Dalam perjalanan panjang itu, boleh jadi tubuh akan lelah dan pikiran terbelah. Saat mengalami itu, apa obat penawarnya?<span id="more-238"></span></p>
<p>Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Yohan Kurniawan, menganjurkan pemudik mendengarkan Al Quran. &#8220;Banyak orang bertanya-tanya kenapa saya yang beragama Katolik dan mengajar di universitas Katolik ini menganjurkan itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebagai ilmuwan, ia tentu tidak asal menganjurkan. Jemaat Gereja Santa Maria Tak Bercela di kawasan Ngagel Surabaya ini punya setumpuk bukti ilmiah untuk menguatkan anjuran itu. &#8220;Semua saya kumpulkan saat menyelesaikan disertasi di Universiti Kebangsaan Malaysia,&#8221; katanya.</p>
<p>Sebenarnya ia dan rekan-rekannya di sana dikontrak untuk meneliti kelelahan pengemudi dan dampaknya. Dalam tim itu, ia kebagian tugas mencari terapi mengatasi kelelahan dan mempertahankan konsentrasi pengemudi. &#8220;Waktu mencari terapi, saya baca salah satu penelitian di Eropa,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Penelitian itu terfokus pada dampak penyebutan Allah pada orang-orang depresi. Pada obyek penelitian ditemukan efek ketenangan setiap kata itu disebut. Oleh karena itu, Yohan mengusulkan ini dipakai sebagai salah satu terapi.</p>
<p>Selain karena alasan penelitian itu, ia juga ingin menyesuaikan dengan kultur masyarakat tempat ia meneliti. Di Malaysia, kultur Islam amat kental sehingga penelitiannya akan lebih mudah.</p>
<p>Para subyek penelitiannya di Malaysia menunjukkan gejala sama. Dengan mendengarkan pembacaan Al Quran saat mengemudi, subyek cenderung lebih tenang. Dengan mendengar ayat-ayat Al Quran, pengemudi cenderung lebih tenang sehingga lebih bisa mengendalikan diri. Pengemudi yang tenang cenderung tidak cepat lelah dan lebih berkonsentrasi saat mengemudi.</p>
<p>Tidak seluruh surat dan ayat dipakai dalam penelitian itu. Ia hanya memperdengarkan pembacaan Al Fatihah, Al Baqarah, dan Yasin. &#8220;Efeknya nyaris sama. Semua memberikan efek ketenangan. Saya mencatat ada beberapa ayat yang memberikan efek penenang. Beberapa ayat lagi memberi efek penyemangat bagi pendengarnya,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>Lebih Rileks</strong></p>
<p>Yohan mengungkapkan, sebenarnya ide penggunaan ayat itu tidak jauh berbeda dengan penggunaan musik. Mereka yang mendengarkan musik kesukaan bisa lebih rileks. &#8220;Orang yang tenang secara psikologis cenderung lebih lambat lelah daripada mereka yang cemas, tidak sabar, emosi tinggi. Luapan emosi amat menguras energi,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ketenangan itu penting karena saat mudik ada dua kondisi pemercepat orang lelah. Pertama, puasa membuat daya tahan tubuh menurun. Orang cenderung lebih mudah marah saat daya tahan tubuh menurun. Alasan kedua, perjalanan jauh sudah pasti melelahkan. &#8220;Nah, saat puasa juga dianjurkan membaca atau setidaknya mendengarkan pembacaan Al Quran. Hasilnya, ketenangan selama perjalanan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Karena itu, ia menganjurkan pengemudi jarak jauh seperti untuk mudik membawa beberapa kaset Al Quran. Selain kaset mengaji, bisa juga dipilih kaset lagu-lagu rohani. &#8220;Pada prinsipnya semua jenis lagu yang disenangi bisa menjadi penenang dalam perjalanan. Saya menyarankan lagu-lagu bertempo sedang hingga cepat untuk disetel dalam perjalanan,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ia juga menemukan, respons pengemudi terhadap fenomena di jalan menurun setelah mengemudi beberapa waktu. Dalam penelitian itu terungkap bahwa pengemudi baru merespons apa yang dilihatnya dalam waktu hingga 1,8 detik setelah mengemudi selama dua jam tanpa henti. &#8220;Semakin lama waktu respons, semakin tinggi risiko kecelakaan. Sebaiknya pengemudi beristirahat 15 menit setelah mengemudi selama dua jam,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Bagi mereka yang mengantuk, bisa diatasi dengan terapi bau. Untuk menghilangkan kantuk awalnya digunakan bau busuk selama 10 detik. Setelah itu pengemudi diciumkan bau-bauan yang wangi untuk menyegarkan kondisinya. Orang mengantuk segera waspada jika mencium bau busuk. Namun, kalau terus mencium bau busuk bisa mengganggu kesehatan. Karena itu perlu segera diberi bau wangi sebagai penyegar.</p>
<p>Jadi, bila Anda hendak mudik, jangan lupa membawa beberapa kaset berisi ayat Al Quran. Putarlah saat dalam perjalanan. Jiwa tenang dan insya Allah mendapatkan pahala serta perjalanan Anda diberkahi.</p>
<p> </p>
<p><strong>Mada, Kris Razianto</strong></p>
<p>Dapatkan artikel ini di URL:</p>
<p>http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/09/24/11011162/dengarlah.al.quran.di.perjalanan</p>
<p>RABU, 24 SEPTEMBER 2008 | 11:01 WIB</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mazhida.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mazhida.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mazhida.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mazhida.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mazhida.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mazhida.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mazhida.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mazhida.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mazhida.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mazhida.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mazhida.wordpress.com&blog=1772525&post=238&subd=mazhida&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/24/dengarlah-al-quran-di-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7172f23a6bd9ecbcc260fa7f7e1fbd5d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mazhida</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>